SMK Broadcast bukan SMK Broadcasting (Salah Kaprah Kurikulum 2013)

Kurikulum 2013 - Broadcast

Tonggak Awal
Dulu awal SMK broadcast berdiri tahun 2003 kurikulum itu belum ada, bahkan waktu itu beberapa orang praktisi dan akademisi diundang untuk merumuskan SMK broadcast. Pertemuan tersebut berlokasi di SMK Cakra Buana Depok karena memang di sanalah SMK broadcast muncul dan digagas. Bersamaan SMK Cakra Buana setahun kemudian muncul SMK 51 Jakarta, SMK 3 Batu Malang, SMK 1 Cimahi, SMK 1 Sukabumi dan seterusnnya hingga hari ini SMK broadcast telah mencapai lebih dari 150 SMK Broadcast berdiri baik swasta ataupun negeri.

Kurikulum awal broadcast pertelevisian pertama muncul bukan sebagai kurikulum berbasis broadcast bahkan cendrung sinematografi (saya masih menyimpan kurikulum tersebut). Maka pada tahun 2008 saya dengan rekan dari SMK 1 Cimahi mencoba merubah kurikulum yang dibuat, lebih tepanya menyempurnakan walaupun masih banyak kekurangan, tapi bagi saya KTSP waktu itu jauh lebih ideal untuk SMK broadcast. Saat itu Kurikulum SMK Broadcast juga akhirnya saya pecah menjadi dua bagian SMK Broadcast Pertelevisian dan SMK Broadcast Radio.

Tujuan saya waktu itu mengubah kurikulum broadcast terpecah menjadi 2 adalah agar ada kemampuan dan daya saing siswa-siswi di dunia industri dan bisa melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi. Yang kedua SMK itu dibentuk dengan kemampuan yang sangat spesifik bukan general, jika SMK dibuat dengan kemampuan general apa bedanya antara SMK dengan D3 (Diploma) dan S1 (Strata). Jenjang D3 dan S1 Brodacast dipelajari utuh yakni broadcast tv dan broadcast radio, hal itu memungkinkan karena daya serap mereka (mahasiswa-mahasiswi) sudah cukup mampu di lihat dari tingkatan psikologi dan umur. SMK tidaklah demikian, bayangkan mereka siswa-siswi SMK ini adalah lulusan SMP/SLTP/MTs/sederajat yang baru saja beranjak dewasa sudah disuruh belajar dengan kurikulum 2013, yang di sana antara Broadcast Televisi dan Broadcast Radio disatukan.

Penyatuan Kurikulum tersebut bagi saya adalah kelemahan yang sangat fatal. SMK Broadacast tidak lagi belajar lebih spesifik, dan terlalu general. Saya hingga kini bertanya-tanya siapa pembuat kurikulum tersebut, yang menurut saya sangat tidak mengerti apa itu broadcast tv dan broadcast radio. Terlihat sama tapi sesungguhnya berbeda, kompleksitas belajarnya pun jauh berbeda. Hari terakahir kemarin ada yang message ke saya "Kurikulumm 2013 ini untuk broadcast rasanya lebih berat ke Broadcast tv.." pesan itu masuk HP saya pengirimnya adalah guru SMK Broadcast Radio. Fatal bukan...!?? Siapa yang bertanggung jawab.

Bagi saya sebagai seorang praktisi bradcast tv dan broadcast radio tidak masalah, tapi dari sana ketika menyempurnakan KTSP saya bercita-cita memperbaiki dunia pendidikan utamanya di broadcast tv dan broadcast radio. Maka pun saya memecah broadcast tv dan broadcast radio, dan sepanjang tahun 2008 hingga 2013 sebelum muncul Kurikulum 2013, teman-teman Guru SMK Broadcast tidak banyak yang komplain dan meng"aduh". Bulan Juli 2014 sebagai awal ajaran tahun baru dan konon katanya sebagai penerapan kurikulum 2013 menjadi hal yang sangat krusial.

Siswa-siswi SMK Cempaka Nusantara Praktik Magazine Show
SMK Broadcast bukan SMK Broadcasting
Berikutnya, di fanepage ini pula pernah saya jelaskan apa itu brodcast dan broadcsting. Dua hal yang sebenarnya berbeda berikut perbedaanya:

"Menurut disiplin ilmu komunikasi, broadcasting adalah cabang dari ilmu komunikasi yang berhubungan dengan penyiaran.

Broadcasting secara harfiah adalah proses pengiriman sinyal/pesan ke berbagai lokasi secara bersamaan baik melalui satelit, radio, televisi, komunikasi data pada jaringan dan lain sebagainya.

Sedangkan menurut UU Penyiaran No. 32 tahun 2002 penjelasan tentang dunia broadcast terbagi menjadi 2 yakni siaran (broadcast: kamus bahasa inggris) dan penyiaran (broadcasting: kamus bahasa inggris) yang masing-masing memiliki definisi sendiri-sendiri.

Siaran adalah pesan atau rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar, atau suara dan gambar atau yang berbentuk grafis, karakter, baik yang bersifat interaktif maupun tidak, yang dapat diterima melalui perangkat penerima siaran. Penyiaran adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran.

Maka di dalam broadcast sendiri sebenarnya yang paling dominan dikaji adalah bagaimana membuat konten sebuah siaran mulai dari praproduksi-produksi-pascaproduksi, jadi bukan hanya belajar secara teori saja namun di broadcast mempelajari praktik bagaimana membuat sebuah tayangan/konten yang menarik dan enak dilihat atau didengar, atau menurut teori ilmu komunikasi, bagaimana pesan yang disampaikan sampai kepada khalayak ramai/umum. Karakteristik broadcasting antara lain: memberi informasi, mendidik dan menghibur."

Broadcast adalah seni bukan teknik, karena bicara konten adalah bicara "taste" (rasa - sense of art) bukan bicara teknik. Di Kurikulum 2013 untuk broadcast ada di BIDANG KEAHLIAN : TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI. Padahal pendekatannya dalam broadcast itu lebih kepada seni membuat program acara tv dan atau radio. Bisa saja Pemerintah dalam hal ini membuat SMK Broadcasting dan yang kemudian kurikulum diterapkan adalah bagaimana membuat sebuan transmiter dan receiver dengan daya sataunnya. Lucunya Kurikulum 2013 untuk broadcast mempelajari ini: Pengetahuan Listrik, Elektronika dan Digital dan Teknologi Penyiaran, dua pelajaran ini adalah ada dalam ranah broadcasting bukan broadcast. Entah siapa lagi menyusun kurikulum ini...!!?

Anton Mabruri
Ketua Umum AGBI

0 komentar: