MISE-EN-SCENE [baca: mis ong sen]

Berkarya itu penting... namun ada yang paling penting dari semua itu adalah terus belajar, jangan dulu jumawa apalagi puas dengan sebuah karya. Paling tidak agar karya kamu tidak tersesat dan hanya menjadi karya yang itu.. itu saja. Memerlukan puluhan referensi untuk menghasilkan karya yang bagus, kalau hanya sekadar syuting dan asal muncul gambar itu pertanda kamu itu SOMBONG alias JUMAWA. Referensi diperlukan untuk menginspirasi bukan untuk menjadi plagiat/meniru, kecuali jika kamu telah cukup tahu teori dasarnya.

Karya audio visual (Film, Feature, Dokumenter) menjadi bagus dalam ukuran yang baik adalah karena banyak referensi yang kita gunakan juga baik. Anak-anak muda para penggiat broadcast hari ini banyak sekali, namun sedikit yang mau belajar secara inten dan kontinyu. Mereka ingin cepat-cepat syuting dan menjadikan karya yang menurutnya keren, padahal mohon maaf karya itu "gagu" tidak mampu bicara baik dari sisi visual maupun audio. Maka diperlukan apa yang di namakan miss en scene (dalam sinamatografi) atau scenic art (dalam sinema elektronik).

Miss-en-scene menurut kamus kecil istilah film (penerbit IKJ) adalah istilah mis-en-scene digunakan untuk menunjuk proses sinematis yang terjadi dalam sebuah set sebagai kebalikan dari MONTAGE yeng terjadi kemudian. Secara literal artinya ”menata-dalam-scene”. Mulai dari menyutradarai pemain, pengaturan posisi-posisi kamera, pemilihan (penentuan) lensa dll. Mis-en-scene sangat penting bagi kaum REALIS, sedang montage bagi kaum EKSPRESIONIS.

Mise-en-scene [baca: mis ong sen] adalah segala hal yang terletak di depan kamera yang akan diambil gambarnya dalam sebuah produksi film atau karya visual. Mise-en-scene berasal dari kata Perancis yang memiliki arti "putting in the scene". Mise-en-scene adalah unsur sinematik yang paling mudah kita kenali karena hampir seluruh gambar yang kita lihat dalam film adalah bagian dari unsur ini. Jika kita ibaratkan layar bioskop adalah sebuah panggung pertunjukan maka semua elemen yang ada di atas panggung tersebut adalah unsur-unsur dari mise-en-scene. Sebagai contoh pada saat kita menonton film tentang perang dan epik sejarah mudah kita kenali karena setting serta kostumnya yang megah dan mewah. Lalu kita lihat pada film horor serta misteri didominasi suasana yang gelap serta suram yang amat mencekam. Berbeda dengan film-film drama serta komedi boleh jadi menekankan pada akting pemain. Dengan demikian bisa kita katakan bahwa separuh kekuatan sebuah film terdapat pada aspek mise-en scene.

Mise-en-scene terdiri dari empat aspek utama, yakni:
 Setting (latar)
 Kostum dan tata rias wajah (make-up)
 Pencahayaan (lighting)
 Para pemain dan pergerakannya (akting)

Dalam sebuah film unsur mise-en-scene tentu tidak berdiri sendiri dan terkait erat dengan unsur sinematik lainnya, yaitu sinematografi, editing, dan suara. Tanpa keterlibatan unsur-unsur sinematik lainnya, unsur mise-en-scene tak ubahnya layaknya pertunjukan panggung belaka. Apakah pernah anda melihat sebuah film yang mengambil gambar hanya menggunakan satu latar saja, dengan menggunakan hanya satu kamera tanpa pergerakan dan perubahan dimensi jarak, serta tanpa interupsi gambar sedikit pun dengan durasi lebih dari satu jam. Tentu tidak, namun jika ada sekalipun bisa jadi filmnya akan sangat membosankan. Jadi sebenarnya unsur-unsur mise-en-scene harus mampu mendukung naratif serta membangun suasana dan mood sebuah film atau karya visual lainnya.

Unsur tersebut mutlak diperlukan dalam membuat suatu karya yang baik, hal ini berlaku untuk karya audio visual (film, program acara tv dan video production). Hari ini mengapa banyak di antara karya audio visual kita yang dangkal bahkan bisa dibilang “gagu” tidak mampu bertahan lama dan hanya bersifat selintas, ditonton hari ini dan dicampakkan kemudian hari. Mari coba kita perhatikan mengapa karya audio visual orang-orang Eropa, Amerika, Korea ditonton berkali-kali pun tidak pernah bosan dan terus membuat hati kita berkecamuk, ini karena mereka memasukkan unsur mise-en-scene.

Sebagai saran anak-anak muda para penggiat broadcast tv, film dan video production mari mencoba mempelajari apa sesunggunya diperlukan agar karya kamu berbicara secara universal dan menjadi absolut. Jangan JUMAWA pada saat kamu sudah bisa membuat karya, bisa jadi karya mu itu memang “gagu” karena hanya membanggakan diri tidak mau belajar mencari referensi sebanyak-banyaknya. Banya menonton dan baca adalah keberhasilan kamu untuk membuat karya audio visual yang “bicara”. SELAMAT BERKARYA... Salam Broadcast

oleh : Anton Mabruri KN 

0 komentar: