meta keyword --->

Saturday, 28 July 2018

BLUE FIRE Gunung ijen Banyuwangi

“Blue Fire” alias si api biru yang hanya mau menampakkan diri di tengah gulita merupakan magnet utama dari pesona Kawah Ijen. Dari bibir Kawah Ijen yang berada di puncak Gunung Ijen ini, tarian “the blue fire” selalu mampu menyihir siapa pun yang melihatnya.

Berlokasi di ujung timur Pulau Jawa, Kawah Ijen yang berada di puncak Gunung Ijen ini merupakan salah satu destinasi wisata tersohor di negeri ini. Tak hanya wisatawan lokal saja, Kawah Ijen menjadi salah satu incaran kunjungan bagi para wisatawan atau pejalan dari luar negeri. Pesona kawah asam raksasa dan fenomena blue fire alias si api biru menjadi magnet kuat yang mampu memikat siapapun untuk rela meneteskan peluh mendaki gunung setinggi 2368 meter diatas permukaan laut (mdpl) ini.

Hari masih begitu dini saat pos pendakian menuju Gunung Ijen dibuka. Meski begitu di pos pendakian Paltuding sudah nampak kerumunan wisatawan yang sedang melakukan prosedur pembayaran tiket retribusi untuk mendaki Gunung Ijen. Setelah selesai berkutat dengan administrasi, saya dan pendaki lain bersama-sama dengan para penambang belerang bergerak melangkah naik menuju puncak Gunung Ijen. Saat itu jam di layar ponsel masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari

Google

Dalam pendakian menuju Gunung Ijen saat itu, sejumlah turis asing nampak mendominasi. Kebanyakan dari mereka diantae oleh guide lokal yang membuka jasa pendampingan perjalanan wisata ke Gunung Ijen ini. Antusiasme saat itu sungguh terasa. Wajar saja, sebagian besar dari wisatawan yang melakukan pendakian ini belum pernah berkunjung ke Gunung Ijen sebelumnya dan melihat fenomena the blue fire yang sangat tersohor hingga ke manca negara.

Perjalanan mendaki menuju Gunung Ijen membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam lamanya dengan berjalan santai. Rute trekking yang dilalui didominasi oleh pasir dan bebatuan kerikil dengan kemiringan antara 25 hingga 35 derajat. Terhitung jarak antara pos pendakian yang terletak di kawasan Paltuding, Kabupaten Banyuwangi menuju puncak Gunung Ijen ini sejauh tiga kilometer dan jarak antara puncak Gunung Ijen untuk turun menuju bibir Kawah Ijen sejauh sekitar 250 meter dengan kondisi bebatuan terjal dan kemiringan cukup ekstrim.

Google

Sebelum memulai perjalanan pendakian menuju Kawah Ijen, para pendaki dapat beristirahat sejenak dan menikmati santap malam dan minuman hangat di warung Ijen ‘Mbok Im’ yang terletak tak jauh dari pos retribusi pendakian. Tak jarang pula warung tersebut dijadikan tempat untuk bermalam bagi para pendaki sebelum memulai perjalanan pendakian pada dini hari.

Perjalanan pendakian menuju puncak Gunung Ijen ini umumnya dimulai sesaat setelah pos retribusi dibuka pada pukul 01.00 dini hari. Dengan estimasi waktu perjalanan sekitar dua hingga tiga jam dari waktu start sekitar pukul 02.00 dini hari, diperkirakan para pendaki masih punya waktu cukup panjang untuk dapat menyaksikan fenomena api biru di bibir Kawah Ijen. Di sepanjang rute perjalanan pun terdapat beberapa pos yang dapat digunakan untuk beristirahat sejenak guna menghela nafas. Meski masih pendaki pemula kamu tak perlu khawatir! rute trekking di Kawah Ijen ini cukup bersahabat.

Google

Tarian Magis “The Blue Fire” Dari Dinding Kawah Ijen
Secara administratif, Kawah Ijen ini berada di perbatasan antara Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Jarak pos pendakian Gunung Ijen di Paltuding, Kabupaten Banyuwangi dengan Kota Banyuwangi sejauh sekitar 38 kilometer dan dapat ditempuh dengan berbagai macam moda transportasi baik roda dua maupun roda empat. Selain itu, Kawah Ijen merupakan area pertambangan belerang terbesar di Jawa Timur yang masih menggunakan metode penambangan dengan cara tradisional.


Kawah Ijen adalah kawah asam raksasa yang disebut-sebut sebagai kawah paling asam terbesar di dunia. Kawah Ijen berada di puncak Gunung Ijen, salah satu gunung aktif di Pulau Jawa yang terakhir meletus pada tahun 1999. Ketinggian dinding kalderanya mencapai 500 meter dengan total luas area kawah sebesar 5466 hektar dan kedalaman kawah mencapai 200 meter.


Tingkat keasaman Kawah Ijen ini hampir mendekati angka nol dimana semakin rendah angka atau semakin tinggi tingkat keasamannya semakin mudah melarutkan berbagai benda-benda keras seperti batu atau bahkan tubuh manusia sekalipun. Suhu kawah mencapai 200 derajat celcius. Akan tetapi dibalik semua kengerian itu, Kawah Ijen menjadi sebuah panggung teater alam yang selalu menyajikan panorama pagi yang mempesona di pelupuk mata.

Setibanya di tepian Kawah Ijen kamu akan disambut dengan lanskap danau yang membentang luas dan berisi air biru kehijauan. Di dinding-dinding kaldera terdapat cahaya biru yang meliuk-liuk laksana tarian magis. Cahaya itulah yang dikenal dengan nama api biru alias the blue fire. Fenomena api biru ini sangat langka, hanya bisa dijumpai di Kawah Ijen, Indonesia dan di Islandia. Tak heran jika akhirnya wisatawan berbondong-bondong ingin menyaksikannya.

Di bibir Kawah Ijen ini pulalah kamu bisa melihat aktivitas penambang belerang tradisional. Sejak dini hari mereka sudah merayapi punggungan Gunung Ijen guna sampai di Kawah Ijen. Setibanya disini mereka menambang belerang lantas dipikul turun gunung guna ditukarkan dengan rupiah. Manusia-manusia perkasa ini menjadikan Kawah Ijen bukan semata tempat wisata indah yang wajib dikunjungi, melainkan sumber mata pencaharian mereka. Berbincang dengan para manusia super Gunung Ijen ini akan menjadikan perjalananmu lebih bermakna.

Lokasi dan Akses Menuju Pos Pendakian Kawah Ijen
Pos pendakian Kawah Ijen berada di kawasan Paltuding, Desa Banyusari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Untuk mencapai pos Paltuding dapat ditempuh dari Kota Banyuwangi menuju arah barat melalui jalur Licin – Jambu – Paltuding sejauh 38 kilometer. Jarak ini memang terbilang dekat, namun kamu harus siap dengan kondisi jalanan yang tergolong buruk akibat sering dilalui oleh truk pasir dan truk pengangkut belerang.


Jalur alternatif selain dari Kota Banyuwangi yakni melalui Kota Bondowoso menuju arah timur melalui jalur Wonosari – Sempol – Paltuding sejauh sekitar 70 kilometer. Walaupun jarak tempuhnya lebih jauh ketimbang dari Kota Banyuwangi, akan tetapi jalur ini merupakan jalur favorit karena kondisi aspalnya cukup baik. Di sepanjang perjalanan kamu akan dimanja dengan pemandangan menyegarkan berupa perkebunan kopi serta pepohonan yang rindang.

Bila kamu tak membawa kendaraan pribadi, kamu dapat naik bus dari terminal Kota Surabaya turun di terminal Banyuwangi atau menyewa jasa ojek yang ada di sekitar area Stasiun Banyuwangi Baru atau Stasiun Karangasem yang jaraknya tak terlalu jauh dari Kota Banyuwangi. Bila kamu berangkat bersama rombongan dalam jumlah banyak, alternatif transportasi yang dapat digunakan adalah mencarter mobil angkutan umum menuju pos Paltuding dari Kota Banyuwangi. Bagi kamu yang tak ingin repot untuk menuju pos Paltuding sebelum melakukan pendakian menuju Kawah Ijen, opsi lain yang dapat dipilih ialah menggunakan paket jasa wisata atau paket trip Kawah Ijen dari beberapa operator online yang tersedia.

Harga Tiket Pendakian Gunung Ijen
Retribusi pos pendakian Paltuding: Rp 5.000 (wisatawan lokal), Rp 100.000 (wisatawan asing)
Tiket masuk kendaraan roda dua ke Kawasan Taman Cagar Alam Ijen: Rp 2.000
Tiket masuk kendaraan roda empat ke Kawasan Taman Cagar Alam Ijen: Rp 5.000
Parkir kendaraan roda dua: Rp 3.000
Parkir kendaraan roda empat: Rp 6.000

Tips Mendaki Gunung Ijen
Fenomena blue fire alias si api biru akan muncul pada malam hari hingga subuh, karena itu pastikan kamu sudah tiba di Kawah Ijen sebelum subuh. Pos Pendakian Paltuding sudah buka sejak pukul 01.00 dini hari, kamu bisa mendaki pada pukul tersebut atau pukul 02.00 WIB. Dengan estimasi waktu tempuh sekitar 2 hingga 3 jam jalan kaki, maka kamu memiliki banyak waktu untuk menikmati keindahaan di puncak Gunung Ijen.
Walaupun rute pendakian Kawah Ijen tergolong cukup pendek, sebaiknya kamu tetap melakukan persiapan fisik untuk mencegah resiko kram otot.
Bawalah peralatan pendakian yang aman dan mumpuni, seperti sepatu dan celana trekking, jaket, buff atau kupluk penutup kepala, dan ransel kecil.
Pendakian pada dini hari akan terasa melelahkan. Karena itu bawalah makanan dan minuman untuk mengganjal perutmu sekaligus menambah pasokan energi. Air mineral juga memiliki fungsi ganda untuk membasahi masker supaya debu dan asap belerang tidak terhidup langsung ke dalam paru-paru.
Jangan sampai lupa membawa masker! Bila masker kain dirasa belum cukup, bawalah masker jenis respirator yang lebih mampu menahan asap sulfur. Namun apabila kamua lupa atau tak sempat membawa, kamu bisa menyewanya di lokasi pendakian dengan tarif Rp 25.000.
Bawalah juga kacamata bening untuk mencegah iritasi dan rasa pedih di mata akibat terkena asap sulfur dari Kawah Ijen.
Bila kamu sudah sampai di bibir kawah untuk menyaksikan fenomena api biru atau The Blue Fire, jangan sekali-sekali berdiri terlalu dekat dengan api. Jarak yang terlalu dekat akan membuatmu lebih beresiko terkena kepulan asap sulfur yang pekat dan dapat membuyarkan penglihatan.
Bersikaplah sopan ketika bertemu, berpapasan, atau bahkan sedang memotret para penambang belerang di bibir Kawah Ijen. Bila perlu, beri mereka sedikit yang kamu punya seperti air minum, rokok, atau makanan kecil yang kamu bawa.
Bagi kamu penggemar fotografi, wajib hukumnya bila memotret Blue Fire atau fenomena api biru Kawah Ijen ini dengan menggunakan tripod.
Jadilah seorang pejalan dan pendaki yang santun dan beretika. Mendakilah dengan santai dan jangan buang sampahmu sembarangan! Kantongi dan bawa turun sampahmu, kemudian buang di tempat yang telah disediakan.


Sumber Literasi : 
http://www.maioloo.com/tempat-wisata/jawa-Timur/gunung-ijen/


==================
Sebelum kami memposting  ulang tulisan ini, kami menelaah sejauh mana tulisan dari www.maioloo.com ini ditulis. Sebelum itu kami mohon ijin berbagi tulisan ini kepada komunitas blogger kami, sebagai bentuk berbagi pengetahuan yang cukup penting. Terima kasih sebelumnya kami ucapkan. Salam

No comments:
Write komentar

Interested for our works and services?
Get more of our update !