Telaah Kurikulum 2013 Untuk Jurusan Broadcast

Perdebatan Panjang 
Setelah disahkannya kurikulum 2013 saya adalah orang yang bisa dibilang paling sering menerima keluhan dari mereka para guru SMK Brodcast (P4TV) dan tidak sedikit pula yang memaki saya atas ketidak mengertian mereka (para guru) tentang spektrum kurikulum 2013 di jurusan broadcast. Mereka mengira saya yang menyusun kurikulum tersebut, karena memang tahun 2008 saya ikut terlibat dalam penyusunan dan penyempurnaan KTSP. Tepat di bulan Juli 2013 setalah saya baru saja menerima mandat dari teman-teman AGBI untuk menjadi Ketua Umum AGBI, berbagai keluhan datang dari wilayah mengenai kerancuan kurikulum 2013, padahal saat itu saya belum tahu bentuk spektrum yang ada. Seminggu kemudian saya temukan jawabannya, bahwa kurikulum 2013 untuk brodcast itu kacau balau. Bahkan si penyusun spektrum tersebut bisa dibilang tidak mengerti apa sebenarnya broadcast, di sana ada istilah-istilah yang menurut saya sebagai orang broadcaster pun tidak paham dengan istilah-istilah yang tertuang. Kemudian saya, pengurus AGBI, dan pembina AGBI saat itu berinisiatif membedah ulang spektrum kurikulum yang sudah di sahkan oleh pihak direktorat. Akhirnya pertemuan internal AGBI terealisasi pada bulan agustus 2013, kami berkumpul di kantor pusat AGBI, selain juga mencari tahu siapa penyusun kurikulum broadcast tersebut. Baca sejarah singkat SMK Broadcast.

Titik awal kami telah menemukan siapa penyusun kurikulum tersebut, namun saya tidak begitu yakin personal SMK tersebut yang menyusun. Berbulan lamanya kami sesama anggota AGBI saling mencurigai bahkan saling menyalahkan. Bulan November 2014 melalui RAKORNAS AGBI di Semarang menjadi tonggak awal saya mendengarkan keluh kesah teman-teman SMK Broadcast se-Indonesia, akhirnya kami membedah dan menyamakan persepsi tentang istilah-sitilah yang terdapat di kurikulum 2013. kurikulum versi AGBI. RAKORNAS AGBI tersebut menghasilkan rumusan spektrum untuk acauan awal menanggapi kekeliruan yang selama ini terjadi. Di dalam RAKORNAS tersebut kami belum mendapati siapa sebenarnya yang menyusun spektrum kurikulum tersebut. Hingga detik itu saya terus mencari tahu siapa di balik penyusun spektrum tersebut.

Persinggahan PPPPTK SB YOGYAKARTA
Kehadiran kami bertiga (Saya, Ary Agung W, dan Ninik L) di gedung PPPPTK seolah menjadi titik terang siapa sebenarnya penyusun spektrum kurikulum tersebut. Acara implentasi kurikulum broadcast saat itu menjadi aksi protes kami akan kekeliruan yang selama ini terjadi. Pihak fasilitator memahami itu, dan kami sebenarnya menolak untuk menelaah kurikulum tersebut karena memang spektrum yang tersusun itu kacau balau. Berhari-hari kami menelaah kurikulum tersebut, berhari itu pula saya dan teman-teman justru makin absurd tak memahami apa yang diinginkan oleh kurikulum tersebut. Kami akhirnya menyampaikan keberatan lewat diskusi-diskusi yang kami lakukan bersama pihak fasilitator PPPPTK SB JOGJA.

Melalui diskusi dan pendekatan dengan beberapa orang penting di sana akhirnya kami mengetahui siapa penyusun spektrum kurikulum 2013 jurusan broadcast. Diibaratkan jurusan Broadcast bak bola panas yang dilempar dari Jakarta ke Bandung kemudian ke Malang dan berakhir di Yogyakarta. Di tempat terakhir itulah spektrum tersebut dianggap final, di tempat itu pula broadcast radio dan broadcast televisi dilebur menjadi satu atas dasar dan literasi apa, ko ya bisa SMK mempelajari dua ilmu broadcast sekaligus, penjelasan ini sudah saya jelaskan sebelumnya SMK Broadcast bukan SMK Broadcasting (Salah Kaprah Kurikulum 2013). Sehingga tersusun spektrum seperti ini :

Kelompok C (Peminatan)
C.1 Dasar Bidang Keahlian
10 Fisika 2 2 2 2 - -
11 Pemrograman Dasar 2 2 2 2 - -
12 Sistem Komputer 2 2 2 2 - -
C.2 Dasar Program  Keahlian
13 Pengetahuan Broadcasting 3 3 - - - -
14 Pengetahuan Listrik, Elektronika dan Digital 6 6 - - - -
15 Teknologi Penyiaran 6 6 - - - -
16 Simulasi Digital 3 3 - - - -
C.3 Paket Keahlian
Pertelevisian dan Radio
3.1 Perekaman - - 4 4 4 4
3.2 Editing - - 4 4 4 4
3.3 Skenario - - 4 4 4 4
3.4 Produksi Acara - - 6 6 12 12

Ini kekeliruan terbesar dan kalau boleh saya bilang ini adalah kecelakaan sejarah, loh ko bisa? mari kita telaah bersama. Pertama si penyusun tidak pernah menelaah di dalam undang-undang penyiaran No. 32 Tahun 2002, padahal sangat gamblang di dalam undang-undang tersebut dijelaskan perbedaan BROADCAST dan BROADCASTING. Broadcast adalah siaran. Siaran adalah pesan atau rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar, atau suara dan gambar atau yang berbentuk grafis, karakter, baik yang bersifat interaktif maupun tidak, yang dapat diterima melalui perangkat penerima siaran.

Jadi yang sesunggunnya dipelajari dalam broadcast adalah bagaimana membuat konten, berbicara konten tentu berbicara seni berbicara seni tentu berbicara “taste” (cita rasa) berbicara taste tentu bicara hati.

Kemudian BRAOADCASTING adalah penyiaran. Penyiaran adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran.

Di dalam penyiaran kita bicara teknik ketika bicara teknik tentu bicara matematika bicara matematika tentu biacara logika bicara logika tentu bicara otak.

Mari simpulkan sendiri brodcast itu ada diranah mana? Sudah tepatkah seorang seniman belajar Pengetahuan Listrik, Elektronika dan Digital dan Teknologi Penyiaran hingga 12 jam? Saya kira penyusun spektrum ini absurd berdiri di dua kaki, yang ia sendiri tidak tahu pijakannya dari mana.

Di atas juga ada materi perekaman. Mari kita analogikan, apa yang kita pahami pada saat kita mendengar kata rekaman. Kata-kata ini lebih tepat digunakan untuk media audio atau radio. Padahal di spektrum tersebut digunakan untuk televisi yang jelas menggunakan media audio visual. Televisi dan Radio jelas media yang berbeda tidak bisa disamaratakan, sebutan profesi mereka pun berbeda jauh. Teknik produksinya pun berbeda, ko ya bisa disamakan dan dibuat sama.

Telaah Kurikulum 2013
Telaah ini bisa menjadi tolok ukur betapa kurikulum 2013 ini penuh dengan intrik dan terkesan sangat terburu-buru. Dasar acuan yang nyaris mematikan satu potensi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia ini yakni “taste” (cita rasa) seni. Lihat video penjelasan Anis Baswedan Kemendikbud. Dalam kutipan kalimat di dalam kurikulum 2013 berbunyi demikian “Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific), tematik terpadu (tematik antar mata pelajaran), dan tematik (dalam suatu mata pelajaran) perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning)”. Saya memaknai bahwa kurikulum 2013 ini menggunakan pendekatan saintifik (ilmiah) padahal bukankah pendidikan di Indonesia ini terdiri dari SMA dan SMK yang kedunya memiliki dimensi dan orinetasi yang brebeda. Pendekatan saintifik bahkan telah lama diterapkan di dunia SMA, bagaimana mungkin anak-anak di SMK ini belajar dengan metode saintifik. Kita semua sudah tahu bahwa bangsa besar seperti Indonesia ini hanya perlu mengubah mindset masayarakat tentang arti pendidikan bagi keberlangsungan pendidikan itu sendiri.

Konon katanya kurikukulum 2013 ini bersumber pada salah satu buku yang berjudul 21st CENTURY SKILLS ditulis oleh Bernie Trilling and Charles Fadel konon Buku ini juga telah digunakan di beberapa negara sebagai basis pengembangan kurikulum di sekolah-sekolah. Yang cukup disayangkan para perumus kurikulum 2013 ini tidak membuat rumah besar yang bisa dimasukan oleh semua penghuni rumah sehingga impelentasi kurikulum ini menjadi rancu bahkan membuat seluruh penghuni rumah ini mengamuk. Hal lainnya adalah buku yang menjadi acauan kurikulum 2013 ini tidak ditranslet kedalam bahasa Indonsia sehingga paling tidak guru bisa memabaca dan mengaplikasikannya dengan baik dengan metode yang ada dibuku tersebut. Rumah besar itu seperti metode yang akan diaplikasikan dengan gaya dan cara yang berbeda oleh orang-orang yang berbeda namun pesan yang disampaikan itu sampai dan tertuju.

Catatan akhir bahwa di buku 21st Century itu justru saya menemukan persis apa yang disampaikan oleh Pak Anis Baswedan. Kita mengejar ketertinggalan dunia pendidikan kita tapi kita sebenarnya akan terus tertinggal. Pola yang terkonsep dalam buku 21st CENTURY SKILLS justru lebih menggunakan pendekatan Art tidak menggunakan saintifik. Metode saintifik di negara-negara maju justru mulai banyak ditinggalkan mereka beralih ke pendekatan Art, hal ini karena memang di banyak negara maju ini banyak peserta didik yang bersifat pragmatis dan sekeptis. Di Indonesia justru harus terus mengembangkan metode pendidikan seperti yang di kembangkan oleh Bapak Pendidikan modern yakni Ki Hajar Dewantara. Yakni dengan penyebutan Taman, Ki Hajar Dewantara memaparkan bahwa sejatinya pendidikan itu harus menyenangkan bak singgah di taman. Ketika datang ke taman, datang dengan senang hati, berada di dalamnya dengan senang hati, dan pulang dengan berat hati inilah sesungguhnya sekolah bagi anak-anak kita.

Berikut kutipan yang ada dalam buku 21st CENTURY SKILLS, kalau diterjamahkan dengan baik maka muncul uraian yang lebih baik dan dalam , maka sebaiknya oleh mereka para penyusun kurikulum 2013, ini intinya.

Scientists approach the world with questions: Why is the sky
blue? What is the smallest particle in the universe? What causes
cancer? How does burning fossil fuels affect the climate? They then
use a rigorous method to discover and verify answers to their
questions—the scientifi c experimental method.

Engineers and inventors on the other hand are motivated by
challenging problems: How can I make this airplane safer? How
can we store more data in a smaller space? How can we use the sun’s
energy to heat and power our homes? Engineers use a slightly different
method to design, build, and test solutions to their problems:
the engineering design method.

Betapa persoalan kurikulum di dunia pendidikan kita ini awut-awutan luar bisa, saya berharapa pemerintah bisa mengambil langkah bijak untuk mereduksi syukur-syukur bisa mengatasi persolan secara tuntas. Gambaran kurikulum broadcast yang saya jelsakan menunjukan bahwa stakeholder banyak yang tidak mengerti masing-masing bidang kompetensi yang ada di dalam dunia pendidikan kita.

Salam
Anton Mabruri KN
Ketua Umum AGBI 

1 comment:

  1. Mau nggak mau AGBI harus terus mengawasi kekeliruan ini..dan membetulkannya...tks atas usahanya..

    ReplyDelete